Kakadu plum. Pernah dengar nama ini? Nama ilmiahnya lumayan indah :
Terminalia ferdinandiana. Kemungkinan besar ia masih asing bagi
kebanyakan kita. Buah ini adalah pemegang rekor tertinggi untuk
kandungan vitamin C. Setiap 100 gram buah ini (100 gram kira-kira
seukuran separuh
jeruk kupas) mengandung 5000 mg vitamin C, atau setara
dengan 5 butir Redoxon!
Alkisah, buah ini sudah dikenal sejak jaman prasejarah sebagai buah
yang hebat yang dapat menyembuhkan beragam penyakit. Terkesan dengan
cerita ini Dr George Kowalski menghabiskan waktu sekitar 10 tahun dengan
helikopter untuk menyusuri jejak tanaman ini di seluruh wilayah
Australia.
Hasilnya, kakadu plum berhasil dipelajari dengan baik dan sekarang
menjadi salah satu super food paling spektakuler di dunia. Tidak cuma
vitamin C, kakadu plum juga mengandung antioksidan, bermacam vitamin
lain, serat, dan asam lemak omega 3.
Dan saya amat sangat yakin, yang semacam kakadu plum ini, ada di
Indonesia. Itulah sebabnya, saya kira, mengapa salah satu kompetensi
dasar dari pembelajaran sains di SD kelas 2 adalah :
“mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan DI SEKITAR RUMAH DAN SEKOLAH melalui pengamatan”.
Jika kita ingin membangun sebuah bangsa yang inventif dan inovatif,
maka cara berpikir ilmiah perlu dibangun sejak pendidikan dasar. Salah
satu keterampilan ilmiah yang perlu dimiliki adalah mengamati. Dan yang
paling utama untuk diamati adalah yang ada di sekitar anak-anak. Maka
seyogyanyalah obyek pembelajaran sains di masing-masing daerah BERBEDA
satu sama lain, meskipun topiknya sama.
Ambil contoh lagi, pembelajaran tentang tumbuhan yang menguntungkan.
Apakah anak-anak yang tinggal di Jakarta tahu, bahwa pada suatu masa
dulu (mungkin juga masih tersisa sekarang) cairan kembang teleng yang
berwarna biru digunakan sebagai obat tetes mata bayi yang bermanfaat
untuk membersihkan mata dari kotoran dan membuatnya jernih. Apakah
kembang teleng ini diperkenalkan kepada anak-anak SMA kita sebagai
indikator asam dan basa alami? Atau akan seterusnya kita selalu
mencontohkan red cabbage (kol merah/kol ungu) sebagai indikator alami?
Apakah kembang teleng tanaman asli Indonesia. Coba kita lihat nama
latinnya : Clitoria ternatea
Apakah anak-anak di wilayah Jawa masih mengenal buah duwet (ada yang
menyebutnya juwet) atau anggur jawa yang berwarna ungu tua, masam dan
sepet? Atau mereka malah lebih mengenal anggur beneran yang aslinya
adalah tanaman subtropis?
Apakah anak-anak di pulau Bintan masih mengenal buah kemunting atau
buah letup-letup? apakah buah-buah ini pernah dibawa ke dalam kelas
sebagai objek pembelajaran sains? Atau mereka lebih akrab dengan buah
apel washington yang diimpor lewat Singapura?
Apakah anak-anak Sumatera Barat tahu bahwa tanaman khas propinsi
mereka adalah Kayu Manis, dan apakah anak-anak Kalimantan Selatan tahu
bahwa tanaman khas propinsi mereka adalah saga hutan (Adenanthera
pavonina)? Apakah kayu manis atau saga pernah dibawa keruang kelas?
Di tingkat yang lebih tinggi, apakah mbok jamu pernah diundang ke
sekolah (SMA) atau perguruan tinggi untuk bercerita tentang khasiat dari
jamu-jamu itu serta memperkenalkan bahan-bahan yang digunakan dalam
pembuatan jamu gendong?
Keberagaman Indonesia adalah sebuah kekayaan. Akan tetapi, kita
menyeragamkannya lewat buku-buku sains. Semua anak, dari sabang sampai
merauke diperkenalkan kepada tanaman dan hewan yang sama. Semua anak di
Indonesia melihat gambar kuda pada buku sains mereka.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar